Kesehatan

Penemuan Baru tentang Autofagi Bisa Perbaiki Fungsi Otak yang Hilang

Kamis, 23 Juli 2026, 09:48 WIB 5 views 2 menit baca
Para peneliti dari Universitas Tokyo menemukan autofagi berpotensi menyembuhkan penyakit neurodegeneratif. Penelitian dilakukan terhadap tikus percobaan. (iStock/LightFieldStudios)
Para peneliti dari Universitas Tokyo menemukan autofagi berpotensi menyembuhkan penyakit neurodegeneratif. Penelitian dilakukan terhadap tikus percobaan. (iStock/LightFieldStudios)
Bagikan:

Sebuah studi terbaru dari para peneliti di Jepang membuka harapan baru bagi dunia medis, khususnya dalam penanganan penyakit neurodegeneratif. Tim peneliti dari Universitas Tokyo melaporkan temuan yang menunjukkan autofagi dapat membantu memulihkan fungsi otak yang sebelumnya hilang.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tomoya Eguchi et al. ini, dipublikasikan di jurnal Science pada 25 Juni 2026 lalu dan dilakukan melalui eksperimen pada tikus. Penelitian ini penting karena selama ini kerusakan fungsi otak akibat penyakit degeneratif dianggap sulit, bahkan nyaris mustahil, untuk dipulihkan.

Autofagi adalah proses alami di dalam sel yang berfungsi seperti sistem daur ulang tubuh. Melalui proses ini, sel memecah protein rusak dan membersihkan komponen abnormal agar kesehatan sel tetap terjaga. Penyakit neurodegeneratif terjadi ketika protein abnormal menumpuk di dalam sel saraf.

Dalam penelitian terbaru ini, para peneliti menggunakan tikus laboratorium yang proses autofaginya bisa dikendalikan dengan obat. Saat proses ini dilakukan selama empat minggu, protein abnormal menumpuk di sel saraf. Akibatnya, tikus menunjukkan penurunan kemampuan motorik, memori, dan belajar.

Menariknya, ketika autofagi diaktifkan kembali, kadar protein abnormal turun dalam empat minggu berikutnya. Bersamaan dengan itu, fungsi motorik dan kognitif tikus ikut membaik. Para peneliti menyebut temuan ini sebagai tanda bahwa sel saraf mungkin memiliki kemampuan pulih yang lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.

Profesor biologi sel Universitas Tokyo, Noboru Mizushima, yang juga terlibat dalam studi ini, mengatakan temuan tersebut bisa mengarah pada terapi yang memulihkan fungsi saraf meski gejala sudah muncul. "Kami ingin memastikan apakah pemulihan juga dapat dilihat pada tikus tua dan pada tikus yang menjadi model penyakit ini, kemudian berupaya mengidentifikasi obat yang dapat meningkatkan aktivitas autofagi pada manusia," ujar Mizushima.

Cara memantik autofagi pada tubuh juga bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti puasa, membatasi kalori, diet keto, dan olahraga. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua cara ini bisa aman dilakukan, terutama bagi ibu hamil, menyusui, atau orang dengan diabetes. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dengan dokter terkait sebelum mencoba cara-cara di atas.

A

Penulis

Ananta Prana

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait