jpnn.com, JAKARTA - Ainun Ni’am, pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz di Tabanan, Bali, mengungkapkan harapannya agar Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi ajang pemilihan pengurus baru. Ia menekankan pentingnya muktamar ini untuk merumuskan arah organisasi yang dapat menjawab tantangan masyarakat Indonesia yang semakin kompleks.
Ainun menyatakan, "Pandangan Muktamar menjadi sempit jika dianggap sebagai sebuah seremonial pemilihan pengurusan baru." Ia menekankan bahwa fokus utama harus pada kebutuhan organisasi dan masyarakat, sehingga Ketua Umum yang terpilih merupakan produk dari muktamar dan bukan tujuan semata.
Menurut Ainun, tantangan yang dihadapi NU saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan saat organisasi ini didirikan pada tahun 1926. Oleh karena itu, kompleksitas masalah masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemimpin NU di masa depan. Ia menekankan bahwa NU lahir dari kepedulian para ulama dalam mengelola ekosistem pesantren dan telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang keilmuan dan nilai kemanusiaan.
Ainun berharap kepemimpinan NU ke depan dapat lebih memahami kebutuhan masyarakat secara luas. Ia juga menyebutkan beberapa nama yang muncul dalam dinamika muktamar, seperti KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, yang dinilai memiliki kapasitas untuk mengemban amanah di kepengurusan PBNU. Ainun menilai Gus Kikin memiliki latar belakang sebagai kiai pesantren dan kemampuan untuk mengkoordinasikan para kiai, sehingga layak untuk menempati posisi Katib Aam PBNU.
Selain Gus Kikin, Ainun juga mengangkat nama KH. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai figur yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan NU di masa mendatang. Gus Rozin dikenal aktif dalam kegiatan dakwah dan organisasi serta merupakan salah satu inisiator lahirnya Hari Santri Nasional.
Ainun juga menyoroti keterlibatan Gus Rozin dalam isu-isu seperti ekonomi digital pesantren, perubahan iklim, dan kecerdasan buatan. Ia menilai Gus Rozin memiliki pengalaman dalam berbagai tugas kenegaraan, termasuk di Dewan Ketahanan Pangan Nasional dan sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Ainun menilai Gus Rozin layak dipertimbangkan sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara untuk posisi Rais Aam PBNU, ia menyerahkan keputusan kepada sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam AHWA, menekankan pentingnya kesepakatan dan mufakat dalam menentukan Rais Aam. Ainun juga secara pribadi menyebut KH. Said Aqil Sirodj sebagai sosok yang bisa menjadi Bapak bagi organisasi NU.
Dengan harapan dan pertimbangan yang matang, Muktamar ke-35 NU diharapkan dapat menghasilkan kepemimpinan yang visioner dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.