Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah meluncurkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) untuk meningkatkan daya saing lulusan di pasar global. Program ini merupakan langkah strategis untuk menyiapkan lulusan SMK agar siap bekerja di kancah internasional. Peluncuran program ini dipimpin langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti serta Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin di Surabaya, Jawa Timur.
Program SMK 3+1 ini merupakan skema penguatan kompetensi dengan penambahan masa belajar selama satu tahun. Selama tiga tahun pertama, siswa akan belajar sesuai dengan kurikulum nasional yang berlaku. Selanjutnya, tambahan satu tahun difokuskan untuk pendalaman bahasa, budaya kerja, hingga pemahaman hukum dan hak-hak perlindungan tenaga migran di negara tujuan. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa program ini merupakan arah baru kebijakan pengembangan SMK di masa depan.
Tatang Muttaqin menjelaskan bahwa program ini menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi cepat dengan kebutuhan pasar luar negeri. "Program ini adalah jembatan kebekerjaan internasional lulusan SMK yang sesuai dengan arah kebijakan pendidikan vokasi yang mendorong link and match dengan industri. Serta memperluas akses peluang kerja, termasuk peluang kerja luar negeri," katanya. Lebih lanjut, Tatang menekankan bahwa bekal satu tahun ekstra ini sangat krusial untuk kesiapan mental dan hukum para siswa.
Saat ini, program SMK 3+1 telah diterapkan di sedikitnya 49 SMK di seluruh Indonesia. Setiap sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan dimensi kebekerjaan internasional ini ke dalam kurikulum mereka demi mencetak generasi muda yang berdaya saing global. Dengan demikian, diharapkan lulusan SMK dapat bersaing di pasar global dan meningkatkan kualitas hidup mereka.