Pemerintah Indonesia telah menekankan pentingnya pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pemerintah tidak mendikotomikan antara pelajaran STEM dan seni. Menurut Fajar, integrasi keduanya dianggap penting untuk mengembangkan pendidikan yang lebih komprehensif.
Fajar menjelaskan bahwa seni merupakan salah satu bidang yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan STEM. "Sebenarnya kami tidak mendikotomikan antara sains, teknologi dengan seni. Justru kan kita disamping STEM adalah namanya STEAM. Science, Technology, Engineering, Art, and Math. Nah kita berpihak bahwa seni itulah sebagian dari proses pembangunan STEM ini," kata Fajar.
Menurut Fajar, keberadaan teknologi tanpa seni akan kehilangan sentuhan-sentuhan khas untuk mewarnai STEM. "Karena teknologi tanpa seni akan kehilangan sentuhannya. Negara yang berkembang itu pasti di samping teknologi juga ada seni tingkat tingginya," ujarnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group, Stephanie Riady, menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia seringkali merasa takut atau cemas ketika mendengar tentang pelajaran STEM. "Salah satu hambatan terhadap anak-anak terutama di level SD adalah karena mereka mempunyai rasa cemas atau takut, anxiety," ucap Stephanie.
Stephanie menjelaskan bahwa persepsi bahwa STEM itu sesuatu yang jauh dan tidak dekat merupakan salah satu penyebab anak-anak takut. "Contohnya di dalam kelas kita sering menjunjung tinggi tokoh-tokoh ilmuwan luar negeri. Albert Einstein, Gerard Kuiper, dan lain-lain yang ada di luar negeri. Tetapi kita tidak pernah menjunjung tinggi tokoh ilmuwan di Indonesia," ujarnya.