Penyebaran hantavirus membuat masyarakat waspada. Peneliti BRIN memberikan penjelasan edukasi mengenai sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, hantavirus tergolong virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.
Beberapa jenis tikus yang diketahui dapat menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah, tikus got, tikus ladang, serta mencit liar yang hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan. Jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus yang ada pada tikus liar yang ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya pencegahan terinfeksi hantavirus. Misalnya dengan menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus.
Gejala awal seseorang yang terinfeksi hantavirus sering menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Namun, infeksi berat dapat seketika berubah menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Kelompok berisiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan lalu terkontaminasi kotoran tikus.