Kesehatan

Risiko Rhabdomyolysis pada Pelari Marathon

Sabtu, 27 Juni 2026, 17:04 WIB 21 views 3 menit baca
Ilustrasi. Lari marathon memang baik untuk kebugaran, tapi tetap perlu dilakukan sesuai kemampuan tubuh. (iStockphoto/sportpoint)
Ilustrasi. Lari marathon memang baik untuk kebugaran, tapi tetap perlu dilakukan sesuai kemampuan tubuh. (iStockphoto/sportpoint)
Bagikan:

Belakangan ini, tren lari membuat banyak orang mulai menantang diri mengikuti berbagai ajang, dari 5K, half marathon, hingga marathon. Olahraga ini memang baik untuk kebugaran, tetapi tetap perlu dilakukan sesuai kemampuan tubuh. Salah satu risiko yang bisa muncul ketika tubuh dipaksa bekerja terlalu berat adalah rhabdomyolysis.

Kondisi ini terjadi saat otot mengalami kerusakan berat, lalu melepaskan zat tertentu ke aliran darah yang dapat membebani ginjal. Mengutip Cleveland Clinic, rhabdomyolysis merupakan kondisi medis serius akibat kerusakan cepat pada jaringan otot rangka. Saat otot rusak, protein mioglobin dan elektrolit dapat keluar dari sel otot dan masuk ke darah.

Dalam jumlah banyak, mioglobin dapat mengganggu kerja ginjal. Pada kondisi yang terlambat ditangani, rhabdomyolysis bisa memicu cedera ginjal akut atau acute kidney injury. Aktivitas fisik berat menjadi salah satu pemicunya. Karena itu, pelari yang mengikuti lomba jarak jauh, terutama tanpa persiapan cukup, dehidrasi, atau tetap memaksa berlari saat tubuh sudah kelelahan, perlu lebih waspada.

Gejala rhabdomyolysis tidak selalu langsung terasa saat berlari. Beberapa tanda bisa muncul dalam satu hingga tiga hari setelah kerusakan otot terjadi. Keluhan yang perlu diperhatikan antara lain tubuh sangat lelah, nyeri atau lemah otot, mual, dehidrasi, buang air kecil berkurang, hingga urine berwarna lebih gelap dari biasanya.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi Tunggul Situmorang mengatakan, kondisi ini bisa muncul ketika seseorang tetap memaksakan aktivitas meski tubuh sudah kelelahan berat. "Dia kelelahan akut. Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dia.

Tunggul mengatakan, rhabdomyolysis perlu ditangani cepat agar tidak berkembang menjadi cedera ginjal akut. "Acute kidney injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya. Ia menjelaskan, perubahan warna urine itu berkaitan dengan mioglobin, yakni protein dari otot yang rusak dan masuk ke aliran darah.

Bagi pelari, tanda seperti kelelahan ekstrem, nyeri otot yang tidak biasa, tubuh lemas, pusing, urine gelap, atau frekuensi buang air kecil menurun sebaiknya tidak diabaikan. Mengejar garis finis memang memberi kepuasan tersendiri. Namun, memaksakan tubuh melewati batas bisa berisiko serius. Jika muncul gejala yang mengarah pada rhabdomyolysis setelah olahraga berat, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Menurut Tunggul, rhabdomyolysis sering kali terjadi ketika tubuh dipaksa bekerja terlalu keras tanpa persiapan yang memadai. "Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dia. Ia menjelaskan, kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini adalah para pemula yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik berat.

Meski demikian, risiko rhabdomyolysis bukan hanya mengintai pelari pemula. Atlet berpengalaman sekalipun tetap bisa mengalaminya jika melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat secara mendadak atau melampaui batas kemampuan tubuh. "Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.

Oleh karena itu, memahami batas kemampuan tubuh dan peka terhadap sinyal kelelahan menjadi hal yang penting selama berolahraga. Kabar baiknya, rhabdomyolysis yang ditangani dengan cepat umumnya masih dapat dipulihkan. Menurut Tunggul, peluang pemulihan sangat bergantung pada tingkat keparahan cedera ginjal yang terjadi.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait