Skandal pemalsuan riset di konferensi internasional ISPPD 2026 telah menghebohkan dunia maya. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), Prihantini, terlibat dalam skandal ini bersama dengan tim peneliti dari Indonesia yang dipimpin oleh Rifaldy Fajar. Mereka diduga melakukan pemalsuan identitas dan riset saat mengikuti konferensi ilmiah tentang Pneumonia di Denmark.
ITB telah mengonfirmasi bahwa Prihantini merupakan lulusan Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2020 yang lulus pada tahun 2022. Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan bahwa materi yang dipresentasikan oleh Prihantini dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB.
ITB menegaskan bahwa tindakan Prihantini merupakan tindakan melanggar hukum sebagai seorang individu. "Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud," bunyi pernyataan dalam artikel di situs resmi ITB. ITB juga menolak perbuatan pemalsuan riset dan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab.
Dugaan pemalsuan ini diungkap oleh peneliti Mandhara Brasika melalui akun Instagram @mandharabrasika bersama peneliti Wa Ode Dwi Daningrat @w.o.d.d pada 25 Mei 2026. Kecurigaan muncul saat mereka melihat Prihantini dan Rifaldy bertukar name tag dengan nama berbeda serta pakaian saat masuk ke ruang presentasi dari satu judul ke judul lainnya.
Skandal ini telah menghebohkan netizen dan menimbulkan pertanyaan tentang integritas penelitian di Indonesia. ITB telah mengambil langkah untuk menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik dan menolak perbuatan pemalsuan riset. Namun, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang skandal ini dan bagaimana ITB akan menangani kasus ini lebih lanjut.