Bagi sebagian orang, Taylor Swift mungkin hanya dikenal sebagai seorang bintang pop global dengan lagu-lagu hit yang merajai tangga musik. Namun, di bidang akademik, peraih belasan Grammy Awards ini telah menjadi objek kajian ilmiah yang serius. Fenomena budaya, sosial, dan kekuatan ekonomi yang digerakkannya, yang populer dengan istilah "Swiftnomics", kini dibedah di universitas top dunia.
Istilah Swiftnomics sendiri lahir pada tahun 2022 ketika jurnalis ekonomi Bloomberg, Augusta Saraiva, menggunakannya untuk menjelaskan lonjakan inflasi lokal, meroketnya tarif hotel, dan perputaran uang masif di setiap kota yang dikunjungi Taylor Swift. Fenomena ini bukan histeria instan, ekonom internasional seperti Kara Reynolds di American University hingga Prof. Misty L. Heggeness di University of Kansas bahkan membuka mata kuliah khusus guna meneliti bagaimana musisi perempuan ini mampu mendikte indikator ekonomi makro, menantang monopoli bisnis hiburan, hingga mendefinisikan ulang Feminist Economics.
Di Indonesia, gelombang kajian akademis pop-kultur ini hadir di President University yang menghadirkan kelas akademik khusus mengkaji fenomena multidimensional Taylor Swift. Kelas khusus yang mengkaji Taylor Swift ini sejatinya telah dimulai sejak tahun lalu di President University dan menjadikan PresUniv kampus pertama dan satu-satunya menghadirkan kajian Taylor Swift dalam kelas resmi.
Dosen pengampu kelas tersebut, Ferawati Natalita, menjelaskan fokus pembelajaran di kelas ini bukan sekadar melihat Swift sebagai figur publik atau penyanyi biasa, melainkan membedah pengaruh besarnya dalam berbagai lini kehidupan modern. "Semua ini tentang pengaruh Taylor Swift dan proyek-proyek yang ia bangun. Ia bukan hanya seorang penyanyi atau pembangun brand. Kami mempelajari perjalanan kariernya, album-albumnya beserta makna di baliknya, pencapaiannya, hingga berbagai gerakannya," jelas Ferawati.
Melalui pendekatan ini, PresUniv mencoba mendobrak batasan kurikulum konvensional. "Kami ingin belajar dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang," tegas Ferawati. Dengan demikian, kelas ini menegaskan upaya mendorong inovasi pembelajaran yang relevan dengan dinamika zaman.