Dalam beberapa dekade terakhir, universitas di Indonesia telah terjebak dalam fenomena "treadmill" akademik, di mana mereka terus berlari untuk meningkatkan peringkat dan akreditasi, tetapi tidak mencapai kemajuan yang signifikan dalam kualitas pendidikan. Hal ini disebabkan oleh hedonisme akademik, yaitu obsesi pada metrik dan peringkat yang tidak selalu mencerminkan kualitas sebenarnya.
Universitas di Indonesia telah menjadi korban dari logika pasar, di mana akreditasi dan peringkat dianggap sebagai komoditas yang dapat dijual untuk menarik mahasiswa dan sponsor. Hal ini telah menyebabkan universitas lebih fokus pada pencapaian peringkat dan akreditasi daripada pada kualitas pendidikan yang sebenarnya.
Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan dari pencapaian cepat memudar, kecuali diarahkan pada kegiatan bermakna. Universitas perlu berhenti sejenak, menghargai apa yang sudah dibangun, dan bertanya: Apakah yang diukur benar-benar penting? Universitas harus menciptakan ruang yang menghargai kegagalan, eksperimen, dan pemikiran yang tidak nyaman.
Untuk mengatasi fenomena "treadmill" akademik, universitas perlu membangun metrik internal yang mengukur dampak sosial, relevansi kurikulum, dan kualitas pembelajaran. Universitas juga perlu menciptakan zonasi ketegangan produktif, dalam bentuk ruang kelembagaan yang melindungi aktivitas akademik berisiko tinggi dan berjangka panjang.
Dengan demikian, universitas dapat mengembalikan fokus pada kualitas pendidikan yang sebenarnya, dan tidak lagi terjebak dalam fenomena "treadmill" akademik. Perguruan tinggi Indonesia tidak perlu berhenti bermimpi menjadi berkelas dunia, tetapi mimpi itu akan bernilai jika ia dilandasi oleh kualitas nyata, bukan hanya oleh kenikmatan sesaat dari angka di layar.