Kecelakaan maut dapat terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, membuat respons spontan masyarakat untuk membantu secepat mungkin, termasuk memberi minum kepada korban. Namun, di dunia medis, langkah ini justru tidak dianjurkan karena beberapa alasan keselamatan.
Salah satu risiko terbesar adalah aspirasi, yaitu masuknya cairan ke saluran napas atau paru-paru. Korban kecelakaan bisa saja mengalami penurunan kesadaran, linglung, atau muntah, sehingga kemampuan menelan tidak bekerja optimal. Jika diberi minum, cairan bisa salah jalan dan masuk ke paru-paru, menyebabkan komplikasi serius seperti sumbatan, cedera paru, hingga infeksi.
Korban kecelakaan sering kali membutuhkan tindakan medis cepat, termasuk operasi atau anestesi. Dalam kondisi seperti ini, pasien biasanya harus dalam keadaan nil per os (NPO), artinya tidak ada asupan melalui mulut, untuk mencegah aspirasi saat prosedur medis dilakukan. Memberi minum bisa justru memperumit penanganan medis yang harus dilakukan segera.
Pada kecelakaan serius, masalah utama sering kali bukan haus, melainkan perdarahan atau syok. Syok terjadi saat organ tubuh kekurangan aliran darah dan oksigen, dan penanganan yang dibutuhkan adalah menghentikan perdarahan dan pemberian cairan atau darah melalui infus, bukan air minum.
Alih-alih memberi minum, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang lebih aman, seperti segera menghubungi layanan darurat atau ambulans, menghentikan perdarahan dengan tekanan langsung jika memungkinkan, menjaga korban tetap hangat dan tidak banyak bergerak, serta memastikan jalan napas tetap terbuka. Hindari memberi makan atau minum sampai ada penilaian medis.