Survei terbaru yang dilakukan oleh Populix terhadap 840 pekerja profesional di Indonesia menunjukkan bahwa olahraga kini bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga tubuh tetap bugar. Bagi banyak pekerja di Indonesia, olahraga mulai berubah menjadi bagian dari gaya hidup sosial, tempat mencari relasi, quality time, hingga ajang nongkrong setelah penat bekerja.
Mayoritas responden berasal dari kelompok usia produktif 26-36 tahun dengan latar belakang ekonomi menengah ke atas. Survei menunjukkan motivasi masyarakat untuk berolahraga kini semakin bergeser. Tak sedikit pekerja yang menjadikan olahraga sebagai pelarian dari stres pekerjaan sekaligus ruang untuk membangun koneksi sosial.
"Olahraga sekarang bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga jadi ruang sosial," kata Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar. Retno menilai olahraga kini semakin melekat dengan gaya hidup urban para pekerja yang sehari-harinya dipenuhi tekanan deadline dan rutinitas kerja yang padat.
Sebanyak 60 persen responden mengaku berolahraga untuk me time atau waktu untuk diri sendiri. Sementara itu, 53 persen lainnya menjadikan olahraga sebagai quality time bersama pasangan atau keluarga. Tak hanya itu, 40 persen responden mengaku olahraga juga dimanfaatkan untuk membangun relasi dan jejaring profesional.
Fenomena ini terlihat dari kebiasaan setelah berolahraga. Sebanyak 39 persen responden memilih nongkrong atau ngopi usai olahraga, sementara 37 persen lainnya makan bersama teman atau komunitas. Menurut survei tersebut, banyak pekerja sebenarnya memiliki motivasi tinggi untuk hidup sehat. Lebih dari 80 persen responden mengaku rutin berolahraga.
Survei ini juga menunjukkan bahwa pekerja Indonesia sebenarnya sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan. Tantangan utamanya bukan lagi soal niat, melainkan bagaimana olahraga bisa lebih fleksibel, mudah diakses, dan menyatu dengan rutinitas harian mereka.