Slow jogging adalah teknik berlari yang dikembangkan oleh Profesor Hiroaki Tanaka dari Fukuoka University. Teknik ini menekankan berlari dengan kecepatan yang memungkinkan seseorang untuk mengobrol dengan teman tanpa terengah-engah. Kecepatan slow jogging hanya berkisar antara 3-5 kilometer per jam, yang nyaris setara dengan ritme jalan kaki santai.
Menurut ahli kardiovaskular Tamanna Singh, slow jogging dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi tubuh. "Ada banyak bukti yang menunjukkan perubahan aerobik luar biasa yang bisa kita dapatkan dengan berlari pelan," ujarnya. Manfaat slow jogging meliputi meningkatkan daya tahan tubuh, membantu persendian, ligamen, tendon, dan tulang beradaptasi dengan tekanan akibat lari, menyempurnakan bentuk tubuh, menguatkan otot, dan memperkuat jantung dan paru-paru.
Dengan memasukkan slow jogging ke dalam rutinitas, seseorang dapat meningkatkan stamina dan ketahanan tubuh terhadap rasa lelah. Hal ini didapat dari peningkatan fungsi mitokondria, yang memproses oksigen dan mengubah makanan menjadi energi. Selain itu, slow jogging juga dapat membantu tubuh mengembangkan jaringan kapiler atau jaringan pembuluh darah kecil, yang membantu meningkatkan jumlah pengiriman oksigen ke otot.
Sebuah studi longitudinal mencoba membandingkan pelari dan pejalan kaki, dan hasilnya menunjukkan bahwa jalan cepat dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, hingga penyakit jantung. Selain itu, sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine juga menemukan bahwa jalan kaki cepat adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan umur panjang.